Gagal lagi?” tanyaku ketika Ana melemparkan sebuah majalah ternama ke atas meja. “Huuuufftt..” Ana menghela nafas pendek sembari tertawa kecil. “Biasalah!” ujarnya ngga bersemangat.
Melihat ekspresinya seperti itu, aku langsung mengambil posisi duduk di sebelah Ana, dan mengelus pundak Ana dengan lembut. “Sabar ya, semua indah pada waktu nya!” ucapku lembut.
“Kapan kak?” nada suara Ana terdengar putus asa. “Ini udah karya aku yang kedua puluh dalam tahun ini yang ditolak redaksi kak. Semua redaksi udah aku coba, tapi mana hasilnya? Apa karya aku seburuk itu sampe ditolak sana-sini?” cerocos Ana sedih. Buliran air mata satu persatu jatuh membasahi kedua pipinya. Aku menggenggam tangan adik bungsuku erat, dan menghapus air mata itu. “Sayang jawaban Tuhan atas doa kita itu ada tiga. ‘iya’, ‘tunggu’, dan ‘tidak’. Ketika jawaban Tuhan itu ‘iya’ kita wajib bersyukur dan bersukacita. Kalo jawaban Tuhan itu ‘tunggu’ kita wajib bersabar, dan tetap bertekun dalam doa dan pengharapan. Sedangkan, ketika jawaban Tuhan atas doa kita adalah ‘tidak’ kita harus tetap yakin, kalo Tuhan punya rencana yang lebih indah dari apa yang kita doakan.” Jelasku lembut. “Dan menurut kakak, jawaban Tuhan atas doa kamu itu adalah ‘tunggu’. Karena itu kamu harus tetap bersabar, dan tetap bertekun dalam doa dan pengharapan!”
“Tapi kapan kak Tuhan jawab doa Ana? Ana sudah capek berharap selama ini!” nada suara Ana masih terdengar sangat putus asa.
“Jangan pernah jemu akan pengharapan dalam Yesus. Jangan tanyakan kapan Tuhan jawab doa kita. Tapi selidiki hati kita, apakah kita udah siap menerima jawaban atas doa kita. Karena dalam penantian bukan soal ‘kapan’ tapi yang utama adalah gimana hati kita!” jelasku sembari memeluk Ana erat.
“Jadi maksud kakak, jiwa aku belum siap untuk menerima kesuksesan itu?” Tanya Ana sembari menghapus air matanya.
Aku mengangkat kedua pundakku “May be! Mungkin kalo kamu dapat kesuksesan itu dengan cara yang mudah, kamu akan menjadi cepat puas dan tinggi hati. Dan Tuhan ngga pengen melihat kamu kayak gitu. Tuhan pengen memproses dan menguji iman kamu terlebih dahulu, hingga akhirnya kamu bisa jadi dewasa dalam iman dan siap buat menerima kesuksesan itu. Selain itu, coba kamu perbaiki lagi kekurangan-kekurangan dari karya kamu. Selidiki lagi apa selama ini melalui karya-karya mu kamu udah mempermuliakan nama Tuhan?”
Ana tertegun mendengar semua nasihat kaka pertamanya itu. Benar apa yang dikatakan kak Lisa, selama ini Ana belum siap menerima kesuksesan itu. Ana masih sering cepat puas dan tinggi hati. Selama ini karya-karya Ana juga belum sepenuhnya mempermuliakan nama Tuhan. Yaaa….. rasanya Ana sedang melihat Tuhan yang berbicara melalui kak Lisa.
“Kok melamun, An?” ujar ku membuyarkan lamunan Ana.
“Makasih kak untuk nasihatnya!” kata Ana sembari tersenyum manis.
Aku ikut tersenyum bersamanya “Gitu dong, kamu harus tetap percaya kalo Bapa punya rancangan yang lebih indah dari yang pernah kita pikirkan dan Dia sanggup melakukan lebih dari apa yang kita doakan!” Ana mengangguk sembari tersenyum “Kamu masih ingatkan apa yang selalu kakak bilang ke kamu?”
Ana mengangguk pasti “Seribu kali gagal, sejuta atau bahkan semilyar kali aku harus selalu bangkit, dan berusaha! AKU PASTI BISA !! !!” ucap Ana dengan suara lantangnya. ####

0 komentar:
Posting Komentar