Mazmur 141:3 “ Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku! “
Saudaraku yang kekasih, jika kita membandingkan renungan kita hari ini dengan surat Yakobus 3:8, maka kita dapat memahami betapa sulitnya menguasai lidah. Dengan jelas Yakobus menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Adakah dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah bersalah dalam ucapan kita ?
Jujur saja, jika kita mau menghitung, sudah terlalu banyak kita mengucapkan kata-kata yang tidak benar, entah itu perkataan yang menyakiti orang lain, perkataan-perkataan kasar, perkataan-perkataan jengkel sebagai tanda kekesalan kita, ataupun kata-kata gerutuan karena kita diperlakukan tidak adil, karena kita hanya dipandang sebelah mata, dianggap tak berguna, diremehkan, dihina, direndahkan, dan sebagainya. Yang lebih mengerikan lagi adalah seringkali kita tidak mampu menguasai perkataan kita pada saat mengalami pencobaan. Bukankah kita lebih banyak mengumpat daripada mengucap syukur, Saudara?
Mengerti betapa sukarnya menguasai lidah, tidak heran jika dalam doanya Daud memohon agar Tuhan mengawasi mulutnya dan menjaga pintu bibirnya. Apa artinya ini Saudara ? Saudaraku yang terkasih, saat itu Daud sedang menghadapi persoalan yang demikian berat. Ia lari dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari kejaran musuh-musuhnya. Tidak hanya itu, cobaan demi cobaan hidup seolah-olah tidak pernah berhenti menimpa dirinya. Nah, di saat-saat seperti itulah Daud sangat menyadari bahwa manusia akan mudah sekali jatuh dalam dosa karena perkataan. Dan ia tidak menginginkan ada kata-kata keluhan, kata-kata menggerutu dan jengkel karena persoalan yang ia hadapi. Itu sebabnya ia meminta Tuhan mengawasi dan menjaga perkataannya agar ia tetap dapat mengucap syukur dan memuji Tuhan sekalipun dalam pencobaan yang berat!
Selain Daud, mari Saudara, belajarlah juga dari Ayub bagaimana ia menjaga lidahnya tetap bersih di hadapan Tuhan. Sekalipun Ayub dicobai dengan sangat berat tetapi kata-kata yang diucapkannya adalah kata-kata ucapan syukur! Ayub berkata : "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah Nama Tuhan!." Bahkan saat isterinya menyuruhnya untuk mengutuki Tuhan, ia tetap berkata :"Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah tetapi tidak mau menerima yang buruk ?"
Dan Firman Tuhan dalam Ayub 2:10 menuliskan : “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya."
Luar biasa!
Saudaraku yang kekasih, bukankah ini sebuah pelajaran yang indah bagi kita semua? Bagaimana dengan perkataan kita saat ini ? Perlu disadari bahwa kita sangat membutuhkan pertolongan Roh Kudus untuk selalu mengawasi dan mengekang lidah kita agar kita tidak jatuh dalam dosa karena perkataan. Mari Saudara, belajarlah untuk tidak menyalahkan Tuhan oleh karena pencobaan yang kita alami, biarlah Tuhan mendapati kita sebagai orang yang tidak berdosa dalam perkataan kita, amen Sdr ?
Jika saat ini Saudara sedang berada dalam pencobaan, mari mengucap syukurlah agar kita jangan berdosa dengan mulut bibir kita.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar